KEBIASAAN NGECES (BUKAN) KARENA NGIDAM TAK KESAMPAIAN
Bayi yang ngeces kerap dihubungkan dengan mitos. Karena ngidam tak kesampaian. Padahal, ada faktor lain yang perlu dicermati lho.
Ih si kecil ngeces! Dulu ngidam apa sih? Pasti tak kesampaian ya. Inget-inget ngidamnya apa, terus penuhi sekarang! Mudah-mudahan si kecil tak ngeces lagi. Biasanya demikianlah reaksi orang bila melihat bayi teman suka ngeces. Yakni, dari mulutnya keluar air liur atau ngiler terus menerus.
Banyak kalangan masyarakat beranggapan bahwa keinginan orang tua akan sesuatu hal sewaktu hamil bila tak terpenuhi bisa berakibat anaknya bakal punya kebiasaan ngeces atau ngiler. yah, memang keinginan yang sangat untuk menikmati atau memiliki sesuatu disebut ngiler. Bahkan, pada bayi yang ngeces, dianggap demikian. Eh, di masyarakat maju dan modern seperti sekarang, pandangan itu masih saja bertahan. paling-paling perubahannya jika anak mulai ngeces di usia 6 bulanan ke atas, pasti dianggapnya karena mau tumbuh gigi. Menurut spesialis anak Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A, alasan ‘ilmiah’ yang umum diketahui memang ‘mau tumbuh gigi’. Memang benar proses tumbuh gigi bisa menimbulkan baliya ngiler tapi proses itu hanya memakan waktu singkat hanya 2-3 hari saja," tegas dokter yang berpraktek di RS Bunda-Menteng. "Sebenarnya tak selalu karena mau tumbuh gigi atau mitos saja. Ada alasan medis lainnya."
Ngiler atau istilah kedokterannya Shalore merupakan pengeluaran cairan ludah dari rongga mulut yang tidak disengaja, akibat ketidakmampuan untuk menelan. Shalore ini bukan penyakit tapi gejala penyakit. Meski terdengar agak menyeramkan, namun jangan panik dulu. Karena, kata Widodo, sesungguhnya hal ini termasuk normal. Meski, ada beberapa faktor yang tetap harus mendapat perhatian guna menghindari kefatalan.
Penyebab sering timbulnya ngiler menurut Dr Widodo, adanya gangguan pada kontrol syaraf otot mulut yang disebabkan adanya ketidakmampuan organ-organ otak. "Bila sel-sel otak terganggu, bisa menimbulkan gangguan motorik baik itu lumpuh, lemah dan kaku, termasuk organ mulut lambat berfungsi, misalnya kontrol untuk menelan dan meludah jadi terganggu," jelas Widodo yang menyebutkan gangguan pada sel-sel otak bisa akibat serangan infeksi waktu dalam kandungan maupun bersalin. Ibu hamil yang terinfeksi TORCH misalnya, gejalanya akan terlihat seperti bayi yang dilahirkan tidak menangis. Kelainan di otak juga melahirkan kontrol untuk menelan dan meludah jadi terganggu.
Anak yang ngeces terus menerus juga bisa disebabkan gangguan infeksi pada amandel yang berulang, atau luka/infeksi kulit seperti sariawan. Bila si kecil awalnya tak punya kebiasaan ngeces, lalu tiba-tiba ngeces, Anda perlu mewaspadai adanya infeksi amandel atau sariawan di mulut anak.
Fenomena Normal Ngeces adalah hal normal pada batita. Begitupula jika bayi tidak punya kebiasaan ngeces, itupun hal yang lazim. Sebab, air liur ini tidak berbahaya mengingat sebagian air liur mengandung air yang berguna untuk melindungi permukaan di daerah tenggorokan pada saat menelan makanan. Selain itu, dalam air liur terdapat enzim emilase yang berfungsi membantu pencernaan di lidah, dan membantu mengeleminasi atau mengevakuasi bakteri dan virus dari mulut.
Perbedaan anak yang ngeces dan tidak hanyalah pada proses pematangan syaraf mulut yang berbeda. Pada bayi yang ngeces, seiring bertambahnya usia, proses kematangan di sharaf otot mulut pun bertambah baik, kebiasaan itu akan hilang.
Proses kematangan ini pada batita berkisar pada usia 18-24 bulan. Setelah itu, biasanya kebiasaan ngeces mulai hilang. Meski demikian, tambah Widodo, walau usia anak sudah lebih dari 2 tahun, tapi masih terlihat ngiler saja, tidak perlu menjadi panik. "Pada kebiasaan ngeces yang normal akan hilang dengan sendirinya. Jika sudah di atas 4 tahun bisa dikatakan karena adanya penyakit menetap atau patologis," tegasnya.
Ngeces akibat penyakit, derajat berat-ringannya gejala penyakit ini berdasarkan banyak sedikit atau banyaknya air liur yang keluar. Misalnya shaloe jenis ringan hanya membasahi bibir saja atau menetes saja. Kategori sedang bila menetes dari bibir hingga dagu. Kategori berat jika sampai ‘membasahi’ alas dada/bajunya. Tingkat yang paling parah atau derajat profus, anak mengeluarkan air liur terus menerus hingga sampai membasahi benda sekitar misalkan meja.
Untuk mengetahui apakah ngeces anak mengindikasikan bahaya atau tidak, ada petunjuk sederhana yang bisa dilakukan. Bila bayi ngiler terus, dan muncul demam bisa karena gejala infeksi amandel atau sariawan di sekitar mulut, masih kategori ringan terutama bila sembuh dalam dua minggu. Setelah kurun waktu itu belum juga sembuh, maka perlu tindakan ke dokter untuk memastikan penyebabnya.
Penanganan yang benar Apa akibat anak ngeces terus menerus? Kata Widodo bisa dibilang tidak ada atau tidak berat. Paling-paling yang sering terlihat adalah masalah di permukaan bibir sering basah sehingga gampang kotor, sehingga daerah mulut harus sering dibersihkan. Jika terkena baju, artinya harus sering diganti agar tidak menimbulkan bau juga nampak selalu bersih dan kering. Begitupun dengan alas baju yang menutupi dada sebaiknya digunakan berbahan katun atau handuk yang mudah menyerap air.
Jika tingkatnya berat bahkan menjurus ke profus, maka tindakan yang harus diberikan adalah dengan memberikan terapi bicara sama seperti anak yang mengalami keterlambatan bicara. Sebab, anak yang ngeces terus menerus cenderung lambat kemampuan bicaranya. Anak harus dilatih cara menggerakan bibir, cara menelan, cara mengunyah agar air liur tidak keluar juga latihan pada otot dan rongga mulut. Selain itu juga bisa diberikan obat-obatan, namun alternatif ini sangat jarang dilakukan karena dampaknya yang sangat tajam. Alternatif terakhir adalah dengan terapi bedah, berupa kelenjar air ludah diangkat, atau suntikan untuk menahan keaktifan produksi kelenjar air ludah. Tapi, jangan khawatir ini jarang dilakukan kok. Karena, penderita air liur berlebihan sangat kecil.
|